Yang Lembut, yang Kuat Oleh Primus Dorimulu | Jumat, 12 Mei 2017 | 11:48 Founder of Lippo Group Dr. Mochtar Riady. Foto: Investor Daily / Emral Founder of Lippo Group Dr. Mochtar Riady. Foto: Investor Daily / Emral PENGENTASAN KEMISKINAN, TUGAS YANG BELUM SELESAI (3-habis) Sebagai sarjana filsafat, Mochtar sangat filosofis dan sebagai pembelajar Filsafat Timur, ia mengagumi Lao Tse alias Laozi atau Lao-tzu. Ajaran moral Lao Tse dinilai jauh lebih bagus dibanding Confucius atau Kongfuzi, muridnya. Ajaran Confucius menempatkan pria lebih tinggi dari wanita dan pegawai kerajaan atau negara adalah warga negara kelas satu. Dalam ajaran Confucius, pengusaha adalah pekerjaan yang paling rendah derajadnya dibanding pekerjaan lain. Lao Tse dan Confucius, sama-sama filosof besar. Pandangan mereka banyak mempengaruhi pemikiran umat manusia dari masa ke masa. "Tapi, saya lebih mengagumi Lao Tse karena ajaran moralnya bagus dan ia mengajarkan tentang pentingnya hidup yang selaras dengan hukum alam," papar alumnus Nanjing University ini. Buku Lao Tse hanya 6.000 kata. Tapi, banyak dibaca dan diterjemahkan ke berbagai bahasa karena ulasannya sederhana, tapi lengkap, mencakup semua perikehidupan manusia. Suatu hari, kata Mochtar, Confucius berjumpa dengan Lao Tse setelah keduanya lama berpisah. Confucius langsung turun dari keretanya dan bersujud. Lao Tse yang melihat muridnya pun ikut turun dari kereta. "Guru. Saya khawatir kita tidak bisa berjumpa lagi. Oleh karena itu, saya mohon sebuah nasihat terakhir," kata Confucius. Lao Tse membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, "Apa yang engkau lihat?" "Oh, gigi guru sudah tidak ada, sedang lidah masih utuh," jawab Confucius. "Kenapa bisa demikian?" tanya sang guru. "Gigi hancur karena keras, lidah tetap utuh karena lembut," jelas Confucius. "Jawabanmu tepat sekali, sampai jumpa," kata Lao Tse sambil kembali ke keretanya. Sesuatu yang keras bisa tergerus, patah, dan hancur. Sedang yang lembut justru kuat dan bertahan. Baja yang keras akan hancur. Tapi, air yang lembut hanya berubah bentuk. Setelah menguap ke udara akan kembali menjadi air. Itulah hukum alam. Manusia yang keras hati takkan lama hidupnya. Sedang orang yang lembut hati hidupnya lebih langgeng dan sukses. Saat bertemu benda keras, air mencari jalan untuk terus mengalir. Titik-titik air yang jatuh terus-menerus bisa melubangi batu cadas. Aliran air yang deras menghancurkan aneka benda besar dan gelombang samudera bisa menghempaskan kapal. Orang yang kembut hatinya lebih rileks, damai hatinya, memiliki banyak teman, lebih sukses, dan berusia lebih panjang. Sebaliknya, mereka yang keras hati, gampang tumbang oleh masalah sepele. Lembut tidak sama dengan lemah. Keras tak sama dengan kuat. Sejarah membuktikan: yang lembut justru yang kuat.

Yang Lembut, yang Kuat
Oleh Primus Dorimulu | Jumat, 12 Mei 2017 | 11:48
Founder of Lippo Group Dr. Mochtar Riady. Foto: Investor Daily / Emral
Founder of Lippo Group Dr. Mochtar Riady. Foto: Investor Daily / Emral

PENGENTASAN KEMISKINAN, TUGAS YANG BELUM SELESAI (3-habis)
Sebagai sarjana filsafat, Mochtar sangat filosofis dan sebagai pembelajar Filsafat Timur, ia mengagumi Lao Tse alias Laozi atau Lao-tzu. Ajaran moral Lao Tse dinilai jauh lebih bagus dibanding Confucius atau Kongfuzi, muridnya. Ajaran Confucius menempatkan pria lebih tinggi dari wanita dan pegawai kerajaan atau negara adalah warga negara kelas satu. Dalam ajaran Confucius, pengusaha adalah pekerjaan yang paling rendah derajadnya dibanding pekerjaan lain.

Lao Tse dan Confucius, sama-sama filosof besar. Pandangan mereka banyak mempengaruhi pemikiran umat manusia dari masa ke masa. "Tapi, saya lebih mengagumi Lao Tse karena ajaran moralnya bagus dan ia mengajarkan tentang pentingnya hidup yang selaras dengan hukum alam," papar alumnus Nanjing University ini. Buku Lao Tse hanya 6.000 kata. Tapi, banyak dibaca dan diterjemahkan ke berbagai bahasa karena ulasannya sederhana, tapi lengkap, mencakup semua perikehidupan manusia.

Suatu hari, kata Mochtar, Confucius berjumpa dengan Lao Tse setelah keduanya lama berpisah. Confucius langsung turun dari keretanya dan bersujud. Lao Tse yang melihat muridnya pun ikut turun dari kereta. "Guru. Saya khawatir kita tidak bisa berjumpa lagi. Oleh karena itu, saya mohon sebuah nasihat terakhir," kata Confucius.

Lao Tse membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, "Apa yang engkau lihat?" "Oh, gigi guru sudah tidak ada, sedang lidah masih utuh," jawab Confucius. "Kenapa bisa demikian?" tanya sang guru. "Gigi hancur karena keras, lidah tetap utuh karena lembut," jelas Confucius. "Jawabanmu tepat sekali, sampai jumpa," kata Lao Tse sambil kembali ke keretanya.

Sesuatu yang keras bisa tergerus, patah, dan hancur. Sedang yang lembut justru kuat dan bertahan. Baja yang keras akan hancur. Tapi, air yang lembut hanya berubah bentuk. Setelah menguap ke udara akan kembali menjadi air. Itulah hukum alam. Manusia yang keras hati takkan lama hidupnya. Sedang orang yang lembut hati hidupnya lebih langgeng dan sukses.

Saat bertemu benda keras, air mencari jalan untuk terus mengalir. Titik-titik air yang jatuh terus-menerus bisa melubangi batu cadas. Aliran air yang deras menghancurkan aneka benda besar dan gelombang samudera bisa menghempaskan kapal.

Orang yang kembut hatinya lebih rileks, damai hatinya, memiliki banyak teman, lebih sukses, dan berusia lebih panjang. Sebaliknya, mereka yang keras hati, gampang tumbang oleh masalah sepele. Lembut tidak sama dengan lemah. Keras tak sama dengan kuat. Sejarah membuktikan: yang lembut justru yang kuat.

Sebagai sarjana filsafat, Mochtar sangat filosofis dan sebagai pembelajar Filsafat Timur, ia mengagumi Lao Tse alias Laozi atau Lao-tzu. Ajaran moral Lao Tse dinilai jauh lebih bagus dibanding Confucius atau Kongfuzi, muridnya. Ajaran Confucius menempatkan pria lebih tinggi dari wanita dan pegawai kerajaan atau negara adalah warga negara kelas satu. Dalam ajaran Confucius, pengusaha adalah pekerjaan yang paling rendah derajadnya dibanding pekerjaan lain.

Lao Tse dan Confucius, sama-sama filosof besar. Pandangan mereka banyak mempengaruhi pemikiran umat manusia dari masa ke masa. "Tapi, saya lebih mengagumi Lao Tse karena ajaran moralnya bagus dan ia mengajarkan tentang pentingnya hidup yang selaras dengan hukum alam," papar alumnus Nanjing University ini. Buku Lao Tse hanya 6.000 kata. Tapi, banyak dibaca dan diterjemahkan ke berbagai bahasa karena ulasannya sederhana, tapi lengkap, mencakup semua perikehidupan manusia.

Suatu hari, kata Mochtar, Confucius berjumpa dengan Lao Tse setelah keduanya lama berpisah. Confucius langsung turun dari keretanya dan bersujud. Lao Tse yang melihat muridnya pun ikut turun dari kereta. "Guru. Saya khawatir kita tidak bisa berjumpa lagi. Oleh karena itu, saya mohon sebuah nasihat terakhir," kata Confucius.

Lao Tse membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, "Apa yang engkau lihat?" "Oh, gigi guru sudah tidak ada, sedang lidah masih utuh," jawab Confucius. "Kenapa bisa demikian?" tanya sang guru. "Gigi hancur karena keras, lidah tetap utuh karena lembut," jelas Confucius. "Jawabanmu tepat sekali, sampai jumpa," kata Lao Tse sambil kembali ke keretanya.

Sesuatu yang keras bisa tergerus, patah, dan hancur. Sedang yang lembut justru kuat dan bertahan. Baja yang keras akan hancur. Tapi, air yang lembut hanya berubah bentuk. Setelah menguap ke udara akan kembali menjadi air. Itulah hukum alam. Manusia yang keras hati takkan lama hidupnya. Sedang orang yang lembut hati hidupnya lebih langgeng dan sukses.

Saat bertemu benda keras, air mencari jalan untuk terus mengalir. Titik-titik air yang jatuh terus-menerus bisa melubangi batu cadas. Aliran air yang deras menghancurkan aneka benda besar dan gelombang samudera bisa menghempaskan kapal.

Orang yang kembut hatinya lebih rileks, damai hatinya, memiliki banyak teman, lebih sukses, dan berusia lebih panjang. Sebaliknya, mereka yang keras hati, gampang tumbang oleh masalah sepele. Lembut tidak sama dengan lemah. Keras tak sama dengan kuat. Sejarah membuktikan: yang lembut justru yang kuat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus kamus di Perkebunan Kelapa Sawit

RENDEMEN (OER=Oil Extraction Rate) Tanggung Jawab Siapa? Estate atau Pabrik?

Rendemen Minyak Kelapa Sawit yang dihasilkan oleh Pabrik Sawit